6/14/2022

Judul Buku : Susu Kaleng

Juni 14, 2022

Jakarta (Pasutri) - Buku ini pernah terbit online di www.susukaleng.com (Penulis : Sapto Satrio Mulyo)

Tim Pasutri memandang, buku ini perlu ditayangkan di sini, melihat sisi pandang yang berbeda dari tulisan² tema pasutri dan kesetaraan gender lainnya.

Untuk itu, Firmansyah Mawero (Pemred: www.WartaMerdeka.web.id) kami percayakan sebagai Editor "Susu Kaleng" sebagai karya Bunga Rampai perseorangan.

Agar para pembaca mudah mencarinya, maka kami unggah dengan tanggal mundur ke belakang, sehingga pembaca tinggal scroll ke bawah.

Cover Buku dan Logo Band Susu Kaleng

Kami kerjakan secara manual atau ketik ulang, dari Hard Copy buku ini.


8. KDRT
12. IKLAN
Selamat membaca....
Foto : Istimewa

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id


6/12/2022

Susu Kaleng BAB I : Kata Pengantar

Juni 12, 2022

Disebut Susu Kaleng, karena "Kemasannya Kaleng"
Jakarta (Pasutri) - Sebelum membaca buku "Susu Kaleng", saya harap Anda sudah mendapatkan gambaran umum mengenai alur logika buku ini.

Saya adalah salah satu orang yang juga pendukung kesetaraan gender. Karena menurut saya, dengan kesetaraan gender, maka kita akan dapat saling bahu membahu, tanpa membedakan gender itu sendiri.

Singkatnya kalau poligami diperbolehkan dikalangan ASN, maka saya pun akan mendukung pengesyahan diperbolehkannya poliandri. Dengan kata lain, saya sangat tidak suka dengan standar ganda. 

Bagi saya, kalau dia boleh, maka saya pun boleh, atau sebaliknya, kalau saya boleh, maka dia pun boleh.

Di sisi lain, saya adalah orang yang paling tidak mendukung previlage bagi siapa pun di dalam sebuah lembaga Pasutri. 

Karena menurut saya, segala perkembangan harus melalui proses alami, jadi tidak ada proses rekayasa yang justru akan menyesatkan.

Meskipun kita baru mendengar gembar-gembor yang santer mengenai gerakan kesetaraan gender, 10 tahun belakangan ini. Tetapi dalam penerapannya, kita justru sudah melakukan beberapa langkah di depan. Contohnya, kita sudah pernah memiliki presiden wanita.

Jadi, sudah terbukti, bahwa di Indonesia, kaum wanita dapat mencapai hingga karir tertinggi, jika memang ia mempunyai kemampuan untuk melalui ujian-ujian yang juga dilalui oleh kaum pria.

Seperti pernyataan saya di atas, bahwa saya orang yang paling tidak setuju dengan previlage, maka saya pun tidak setuju jika ada pembatasan karir pria, demi memberikan kesempatan bagi wanita, atau sebaliknya.

Selanjutnya saya berharap setelah Anda membaca "Susu Kaleng". Anda mempunyai sisi lain, dalam menilai kesetaraan gender. 

Dari pagi-pagi, saya ingin menyatakan bahwa saya tidak meng-klaim bahwa tulisan saya adalah yang paling benar. 

Tetapi paling tidak, saya ingin memberikan pandangan lain, atau nuansa lain dari sisi yang sama, maupun dari sisi yang berbeda.

Dengan ada nuansa lain yang saya tuliskan dalam buku ini, saya berharap, akan ada proses menuju ke arah kesetaraan gender yang benar-benar setara dan tidak semu. (SSM)

Foto : Istimewa

6/11/2022

Susu Kaleng BAB II : Pendahuluan

Juni 11, 2022

Susu Kental Manis dengan Kemasan Kaleng
Jakarta (Pasutri) - Ladies First, kalau kita melihat perlakuan ini, yang dari dahulu merupakan opini sebagai perlakuan pria yang gentle.

Secara sadar maupun tidak, opini ini terbangun untuk mendiskriditkan pria yang bertindak mendahulukan kepentingan pria lain. Seperti halnya mungkin yang dilakukan oleh wanita, dimana ia selalu mendahulukan kepentingannya sendiri.

Karena tidak ada "Gentleman First", maka sebaiknya demi dan atas nama kesetaraan gender, pola pikir ladies first pun harus dihilangkan.

Kalau seorang pria memperlakukan atau mendahulukan kepentingan lawan jenisnya, itu adalah keputusannya. 

Seperti juga seorang wanita yang sedang mabuk kepayang kepada seorang pria, yang selalu memperlakukan, atau mendahulukan pasangannya, ini pun merupakan keputusan pribadinya, yang tidak ada hubungannya dengan melecehkan diri sendiri.

Karena kesetaraan gender inilah, kaum pria sebenarnya harus bersyukur, karena segala tugas dapat dibagi menjadi rata dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, kaum pria tidak lagi merasa hanya dirinyalah yang bertanggung jawab untuk membetulkan genteng yang bocor. Sebab dengan pembagian kewajiban yang sama, sudah selayaknya, satu saat kaum wanita juga bertanggung jawab untuk membetulkan genteng yang bocor.

Selain itu, kaum pria yang menggunakan kendaraan umum, yang mungkin sangat letih dan penat seharian bekerja, mempunyai hak yang sama dengan kaum wanita, untuk duduk di kendaraan umum, tanpa harus memberikan haknya kepada wanita yang sedang berdiri.

Karena wanita pekerja yang letih dan penat pun, pastinya tidak akan memberikan haknya untuk duduk di kendaraan umum, kepada kaum pria yang sedang berdiri di sebelahnya.

Akan menjadi berbudi pekerti yang luhur, baik pria maupun wanita yang memberikan tempat duduknya kepada orang yang lebih tua, tanpa melihat gender mereka.

Hidup kesetaraan gender !!!!
Mari kita dukung dengan sepenuh hati, tanpa membedakan suku agama, ras dan antar golongan.

Foto : Istimewa

6/10/2022

Susu Kaleng 3.1 : Susu Kaleng dan Baby Siter

Juni 10, 2022

Jakarta (Pasutri) - Dengan berbagai kondisi dan alasan, dahulu sulit bagi ibu-ibu untuk menyusui anaknya, kalau tidak di rumah. 

Dengan kemajuan teknologi, munculnya "Susu Kaleng", apakah memang direncanakan, atau sebagai hasil produk kemajuan teknologi. Yang pasti, membawa dampak pada perubahan pola hubungan anak dengan ibunya.

Kalau dahulu, ibu dengan anak memiliki komunikasi perasaan tersendiri, ketika menyusui anaknya. Dengan komunikasi kontak badan tersebut, timbulah kedekatan yang lebih tinggi. 

Sebaliknya, rasa aman yang ditimbulkan dan diterima anak yang sedang disusui ASI oleh ibunya sangat beda, jika dibandingkan dengan rasa aman yang ditimbulkan dan diterima oleh anak yang mendapat susu kaleng.

Duduk dibalik kursi emansipasi, wanita ingin disetarakan oleh pria dari segi mobilitas. Dimana pria diuntungkan, karena tidak memiliki kapabilitas untuk mengandung, melahirkan dan menyusui.

Di lain pihak, dengan adanya baby sitter yang sudah terdidik untuk mengasuh anak, bahkan mungkin dapat melebihi pengetahuan ibu kandungnya sendiri dalam mengasuh anaknya.

Positif terlihatnya, karena anak akan diasuh secara profesional. Harapannya, anak akan tumbuh dengan sehat jasmaninya. Mengapa sehat jasmaninya saja, bukankah makna sehat adalah harus sehat jasmani dan rohani.

Apakah kedekatan komunikasi bayi dan ibunya itu dapat digantikan dengan hal lain.

Sehat rohani yang berhubungan dengan kasih sayang, ini tentunya masih untung-untungan. 

Jawaban singkatnya, apakah kita dapat membeli perasaan seorang baby sitter, untuk dapat menyayangi dan mencintai anak kita secara tulus, seperti kita orang tuanya.

Keterangan di atas, mungkin tidak mungkin untuk dijadikan bahan perbandingan; kalau bicara kasih sayang, jangankan baby sitter, ibu kandung saja - dengan melihat kasus-kasus yang timbul di masyarakat; banyak yang menyiksa anaknya sendiri.

Kalau jawabannya seperti itu, mungkin wanitalah yang lebih berhak menjawab untuk meluruskannya.

Dari gambaran di atas, singkat kata, pria tetap pada pisisinya bekerja, dahulu "Mencari Makan", dan kini "Mencari Nafkah", tetapi wanita dengan akselerasi yang cepat, dapat mengurangi tugas-tugas kerumah tanggaannya, bahkan tugas yang paling esensial untuk mengasuh dan memberikan rasa aman dan kasih sayang sekalipun, akan dimulai dengan hal yang serba instan.

Foto : Istimewa
Terus Membaca
Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

6/09/2022

Susu Kaleng 3.2 : Atas Nama Emansipasi

Juni 09, 2022

Jakarta (Pasutri) - Kita tahu kata emansipasi berangkat dari perjuangan kaum wanita dalam hal menuntut kesamaan hak dari kaum pria. Tetapi, pada saat yang sama, kaum wanita tidak pernah memperjuangkan kesamaan kewajiban dari kaum pria. Untuk itu, perlu kiranya saya menghimbau pada kaum pria untuk memberikan hak dan kewajiban, yang selayaknya diterima oleh kaum wanita.

Memberikan hak, bukan berarti termasuk dalam pemberian dispensasi bagi kaum wanita, tetapi lebih pada pemberian kesempatan dan peran yang sama, yang menurut kaum wanita selama ini dimonopoli oleh kaum pria.

Dalam hal ini sekaligus memberikan peringatan bagi kaum pria untuk tidak boleh lagi me-monopoli pekerjaan-pekerjaan kasar. Sudah saatnya, wanita pun diperbolehkan untuk mendapat pekerjaan-pekerjaan yang sama dengan kaum pria.

Kaum wanita tidak boleh lagi me-monopoli pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang selama ini diembannya. Sudah saatnya kaum wanita memberikan, atau pria dapat berinisiatif untuk mendapatkan kesempatan, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

Dengan demikian emansipasi akan terlihat lebih setara, dan tidak diskriminatif terhadap salah satu pihak.

Juga yang perlu dicermati adalah hak dan kewajibannya dalam mencari nafkah, sehingga pembagian peran tidak lagi membedakan adanya Kepala Rumah Tangga dan Ibu Rumah.

Melalui buku ini, harapannya, agar aktivis pejuang jender dapat melihat sisi lain dari perjuangan itu sendiri.

Karena dengan berangkat dari pemikiran, bahwa kemerdekaan bukanlah kemenangan bagi diri sendiri, sementara pihak lainnya justru terjajah.

Jadi kita semua harus mengarahkan nilai-nilai perubahan yang akan ada, kepada satu titik, bagi kepentingan dan manfaat kita (wanita dan pria) bersama, dengan tidak merugikan sebelah pihak.

Dengan demikian, kesetaraan jender dapat diartikan secara positif bagi kita (wanita dan pria) semua, dan bukan bagi salah satu dari jender itu sendiriid

Foto : Istimewa
Terus Membaca
Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

6/08/2022

Susu Kaleng 3.3 : Peran Pencari Nafkah

Juni 08, 2022

Jakarta (Pasutri) - Dahulu manusia hidup cukup dengan Makan Minum, dengan peralatan dan kelengkapan yang sederhana. 

Kini, kita hidup dengan kebutuhan yang lebih kompleks. Dimana selain Makan Minum, kita juga butuh sandang pangan yang trendy. Sehingga judulnya tidak lagi "Mencari Makan', tetapi "Mencari Nafkah".

"Mencari Nafkah" di perkotaan pada saat ini, tidak lagi seberat (dalam tinjauan fisik) seperti "Mencari Makan" pada saat yang lalu. Sehingga tidak mengherankan jika peran tersebut, kini sudah dapat dilakukan oleh wanita.

Hal ini bukan berarti menolak pemikiran, bahwa pada zaman dahulu wanita tidak memiliki kekuatan. Tetapi memang keterbatasan sarana dan prasarana yang ada pada saat membagi peran pria dan wanita menjadi dua hal yang dikotomis.

Singkat kata, Anda dapat membaca dalam "Proses Menjadi Kaum Lemah", karena dahulu belum ada "Susu Kaleng".

Peran "Pencari Nafkah" adalah paralel dengan predikat "Kepala Rumah Tangga", karena sejarahnya yang "Mencari Makan" adalah "Kepala Rumah Tangga", sudah selayaknya pula "Pencari Nafkah" adalah juga disebut "Kepala Rumah Tangga". 

Dengan demikian juga, sudah selayaknya kita harus menyamakan  dahulu dalam menempatkan persepsi pemikiran kita (wanita dan pria), untuk dapat menerima kesetaraan predikat tersebut.

Kalau predikat Kepala Rumah Tangga bukan lagi monopoli kaum pria, kini saatnya kita melepas predikat Ibu Rumah Tangga yang dahulu monopoli kaum wanita.

Jika secara mental kita siap untuk menerima konsep tersebut, tinggal kita mencarikan sebutan yang netral, untuk predikat masing-masing peran.

Mungkin bagi orang yang dominan mencari nafkah, tetap kita sebut sebagai "Kepala Rumah Tangga", karena predikat tersebut tidak ada unsur gender-nya.

Sedangkan predikat untuk "Ibu Rumah Tangga" dapat kita ganti sebagai "Wakil Kepala Rumah Tangga". Karena Ibu menunjukan gender.

Dengan predikat tersebut jelas, bahwa kita justru tidak membedakan gender, yang kita bedakan adalah siapa yang lebih berperan atau lebih dominan dalam mencari nafkah itu sendiri.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

6/07/2022

Susu Kaleng 3.4 : Masih Berkuasakah Alat Hidup ?

Juni 07, 2022

Jakarta (Pasutri) - Kalau dahulu hewan dan tumbuh-tumbuhan sebagai pemenuh kebutuhan hidup keluarga, yang dapat langsung didapat dengan cara berburu. Sehingga pria dapat dengan hanya bermodalkan senjata tajam, untuk mencari hewan buruan dan tumbut-tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut.

Sedangkan kini untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kita tidak dapat lagi secara langsung mencari hewan, atau tumbuh-tumbuhan, tetapi kita harus mencari uang terlebih dahulu, agar dapat membelinya.

Dengan perubahan langkah untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut, dimana sekarang uang sebagai sarana untuk melangsungkan kehidupan, yang dapat dicari tidak saja oleh pria semata-mata, tetapi wanita pun dapat berperan sebagai subyek "Pencari Nafkah". Dengan demikian, "Pencari Nafkah" bukan lagi harus menjadi monopoli pria.

Dalam kehidupan rumah tangga, harus ada penopang nafkah yang membuat keluarga tersebut terus dapat menjadi eksis sebagai sebuah keluarga. 

Di sini, kita tidak lagi membicarakan, subyek gender yang mana yang bertugas sebagai "Pencari Nafkah", tetapi siapa yang menjadi "Kepala Rumah Tangga", dan siapa yang menjadi "Wakil Kepala Rumah Tangga".

"Pencari Nafkah" adalah subyek "Kepala Rumah Tangga", dimana hal ini merupakan tuntutan zaman, dalam konteks kesetaraan yang utuh. Dahulu "Pencari Makan" adalah pria, sehingga pria memiliki hak yang begitu besar dalam rumah tangga.

Pada masa sekarang, jika Pencari Nafkah adalah istrinya, maka apakah istri harus diberikan hak yang besar seperti Pencari Makan pada zaman dahulu? 

Kalau jawabannya ya. Maka kita tidak perlu repot-repot memperjuangkan kesetaraan gender, tetapi yang lebih adil untuk dibicarakan adalah, siapa yang akan berkuasa di dalam rumah tangga.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

6/06/2022

Susu Kaleng 3.5 : Mengapa Wanita Jadi Kaum Lemah

Juni 06, 2022
Jakarta (Pasutri) - Dispensasi sosial muncul dan berkembang sudah sejak awal peradaban manusia, dimana pada awalnya pria diposisikan menjadi peran utama "Pencari Makan". Tepatnya sebagai pekerja keras dan kasar, seperti berburu binatang jinak hingga buas, bercocok tanam dlsb. 

Sedangkan wanita yang dapat melahirkan anak, diposisikan untuk mengasuh anak-anaknya. 

Hal ini secara alamiah berkembang hingga abad modern, dimana wanita dengan images yang lemah secara fisik, yang sebenarnya hanya faktor kebiasaan yang turun temurun, hingga diposisikan dan memposisikan memjadi kaum yang lemah.

Posisi yang melemahkan wanita secara fisik, dapet diterjemahkan dari gambaran kondisi situasi di atas tersebut.

Ketika pria berangkat untuk berburu binatang, dengan berjalan menelusuri jalan-jalan hutan belantara yang penuh rintangan, juga dimungkinkan sambil membuka jalan-jalan baru yang jaraknya ber-kilo²meter, bahkan puluhan kilometer. 


Ketika wanita (dengan kelebihannya dapat melahirkan, dan menyusui) sedang menyusui dan bercengkrama dengan anak²nya.

Sementara pria sedang bertarung menaklukan binatang buruannya, wanita sedang bercengkerama dengan anak-anaknya.

Ketika pria berhasil menaklukan dan memanggul binatang buruannya untuk dibawa pulang, sementara wanita sedang menyusun kayu bakar di tungku, yang sebelumnya sudah disiapkan oleh pria di pinggiran tempat tinggal mereka.

Jadi kita harus lengkap membedahnya, jika ingin membahas mengapa wanita diposisikan sebagai kaum lemah.

Dahulu posisi itu, secara fisik memang tercipta dengan alamiah, dan bahkan pria telah memanjakan wanita sejak dulu.

Kalau sejak dahulu sudah ada "Susu Kaleng", mungkin ketimpangan gender sudah tidak ada lagi pada saat ini. 

Hal ini dikarenakan, kekuatan fisik adalah latihan bukan turunan yang baku. Seperti halnya sekarang, wanita yang ikut olah raga bela diri atau fitness misalnya, dapat dipastikan kekuatannya melebihi pria yang tidak ikut olah raga tersebut, begitu juga sebaliknya kan?

Mengapa "Susu Kaleng", sebab jika dari dahulu kala sudah ada "Susu Kaleng, maka ketika wanita sedang memburu binatang atau bercocok tanam, pria dapat memberikan susu kepada anak-anak mereka.

Dengan keberadaan Susu Kaleng, maka peran menyusui dapat digantikan.

Tetapi karena keberadaan Susu Kaleng, baru muncul pada zaman pra modern, bukan zaman batu yang segalanya serba otot.

Maka wanita dapat berkelit, yang kasar diposisikan sebagai kewajiban pria.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

6/05/2022

Susu Kaleng 3.6 : Dispensasi Sosial

Juni 05, 2022

Jakarta (Pasutri) - Pendekatan yang perlu menjadikan dasar dalam  menemukan prinsip-prinsip normatif, demi mendukung adanya kesetaraan dan keadilan gender, jika kewajiban dan peran setiap insan manusia sudah dapat didistribusikan dan diterapkan secara merata dan adil, baik dalam pola gerak maupun dalam pola pikirnya, tanpa sedikitpun melihat dari sisi kekuatan pikiran maupun fisiknya.

Dengan kemajuan teknologi, secara ceteris paribus dalam sebuah keluarga, kecerdasan maupun kekuatan fisik antara wanita dan pria tidak ada lagi bedanya.

Meskipun kelemahan fisik wanita, lebih disebabkan oleh faktor kebiasaan yang turun temurun, di sisi lain wanita tidak ingin kehilangan predikatnya sebagai kaum feminim. Dimana kita ketahui bersama, bahwa pola hiduplah yang membuat kekuatan fisik tersebut, sehingga kuat atau lemah lebih tergantung pada kebiasaan dan latihan sehari-hari.


Sebagai contoh, dalam tayangan acara TV fear factor misalnya: terlihat pria tidak lagi menjadi superior dalam konteks kekuatan fisik, dimana lomba yang disuguhkan tidak dibeda-bedakan antara wanita dan pria. Padahal wanita yang menjadi peserta juga bukan dari kelompok sosial tertentu, artinya bukan dari kalangan olahragawan/ti.

Dalam nilai sosial yang masih berlaku sampai saat ini di Indonesia, jika ada pria yang berkelahi dengan wanita. Meskipun si wanita-nya yang memulai terlebih dahulu, dan pria tersebut babak belur karena tidak berimbang kekuatannya, tetapi tetap saja si pria yang akan selalu dipersalahkan.

Dispensasi sosial semacam inilah, yang sebenarnya merupakan nilai-nilai penjajahan psikologis.

Belum lagi jika kita melihat tanyangan reality show, jika yang bermasalah adalah yang pria, wanita dengan enaknya menggampar pipi pria tersebut.

Tetapi kalau yang bermasalah yang wanita, belum sampai prianya menggampar yang wanita, para crew baik pria maupun wanita sudah menahan atau menghalang-halangi sang pria terlebih dahulu.

Belum lagi, ada juga yang berseloroh, "Jangan Jadi Banci" dong. Dari adegan sehari-hari tersebut, tampak benar, kaum pria sendiri sudah termakan oleh opini yang tidak berimbang, yang secara sadar atau tidak sudah menjadi tameng ampuh bagi kesewenangan wanita terhadap pria.


6/04/2022

Susu Kaleng 3.7 : Tidak Boleh Ada Penjajahan

Juni 04, 2022

Jakarta (Pasutri) - Paradigma hingga pertengahan abad 19, kekuatan politik adalah kekuatan fisik, dimana siapa yang kuat secara fisik, dialah yang memimpin dunia. 

Dengan adanya perubahan perang politik kepada perang ekonomi, maka kekuatan fisik tidak lagi menjadi hal yang nomor satu.

Kalau dulu Belanda menjajah kita 350 tahun dengan konsep penjajahan fisik, maka saat ini penjajahan negara-negara maju kepada kita lebih pada penjajahan ekonomi.

Penjajahan ekonomi tidaklah menggunakan kekuatan fisik semata, melainkan lebih pada kekuatan pemikiran atau kemajuan teknologi. Tetapi namanya penjajahan, tetap saja penjajahan, yakni, yang lemah selalu dirugikan.

Dari perubahan paradigma di atas, jelas bahwa penjajahan harus diartikan sebagai pemanfaatan yang kuat terhadap yang lemah, dalam bentuk apapun.

Konstruksi sosial mengenai ketidak setaraan antara wanita dan pria tidak saja memenjarakan wanita pada peran-peran stereotip-nya, di lain pihak justru menjajah pria secara opini.

Misalnya, umum kita dengar, jika orang tua yang sedang menasehati anak laki-lakinya yang ketahuan berbohong, dengan ucapan "Anak laki harus pegang janji". Kata-kata tersebut tidak diperlakukan atau tidak dibebankan kepada wanita.

Sering pula kita dengar, jika ada anak wanita dan pria yang sedang bertengkar, si pria diharuskan untuk mengalah, meskipun yang salah adalah si wanita.

Hal ini jelas adanya pembebanan tanggung jawab yang tidak setara antara wanita dan pria, mulai dari tataran pemikiran, hingga tataran perlakuan. Yang dapat dilihat pada banyak acara reality show.

Yang tentunya menggambarkan kehidupan sebenarnya. Tetapi banyak pria yang malu dibilang banci, karena melawan stigma itu, karena ketidak pahamannya, mengenai apa itu standar ganda, dan apa itu standar tunggal.


6/03/2022

Susu Kaleng 4.1 : Standarisasi Pekerjaan Sebuah Keluarga

Juni 03, 2022

Jakarta (Pasutri) - Kita hanya akan pokrol bambu atau debat kusir, kalau standarisasi kesetaraan tidak dibuat secara matematis dan sistematis. Hal ini sudah menjadi biasa, jika standarnya tidak baku, setiap orang akan mencoba untuk menginterpretasikan sendiri-sendiri nilai-nilai kesetaraan gender tersebut.

Agar kesetaraan gender dapat terukur, maka kita selayaknya membuatnya secara matematis dan sistematis, mengingat ilmu pengetahuan untuk mendukung penelitian semacam itu sudah sangat terbuka lebar.

Mengapa terjadi polemik yang tidak habis-habisnya, karena selama ini tanggung jawab yang dahulu dibagi secara wilayah, "Kepala Rumah Tangga" sebagai "Pencari Nafkah", sementara "Wakil Kepala Rumah Tangga" mengasuh anak-anak.

Dengan adanya sarana-sarana baru, dimana wanuta tidak lagi harus terikat di rumah untuk Mengasuh Anak-anaknya, maka pembagian berdasarkan wilayah terlihat kurang adil.

Agar netralitas dapat dikedepankan, harus melihat pada sebuah esensi kehidupan, dimana apakah itu wanita atau pria Pencari Nafkah harus memiliki nilai tambah terlebih dahulu.

Nilai tambah "Pencari Nafkah" harus dihitung pula, sebab tanpa adanya nafkah tersebut, tidak akan ada kehidupan rumah tangga itu sendiri. 

Selanjutnya variabel kalori, dan nilai tambah tersebut dapat dijadikan patokan perhitungan matematis, dan distematis tersebut.

Dengan demikian, sepertinya setiap subjek gender dapat menghitung ketimpangan, antara dirinya dengan pasangannya.

Foto : Istimewa
Terus Membaca
Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

6/02/2022

Ciri-ciri Lelaki Bertanggung Jawab :) part-1

Juni 02, 2022

Ilustrasi : Bangun tidur, bahkan lagi marah pun, masih enak untuk dipandang, dan disayang-sayang:)
Jakarta (Pasutri) - Kesetaraan Gender dari Sisi Pria, Alasan mengapa pria harus memiliki istri yang Cantik atau Ayu atau Manis atau Cakep atau ... , tapi jangan yang unik alias jelek... hehehe

Lelaki nantinya jadi Suami. Jadi sebagai suami, ia harus bertanggung jawab terhadap keturunan, pendidikan, serta perilaku anak²nya kelak.

Harus membayangkan bagaimana masa depan anak²nya, mulai dari kesejahteraannya, hingga pergaulannya.

Salah satu variabel pendidikan yang esensial kepada anak² adalah membentuk kepribadian atau perilaku anak, hingga menjadi seseorang yang memiiiki Percaya Diri.

Bagaimana jika anak Anda memiliki paras yang unik alias jelek. Pasti akan lebih susah lagi mengarahkannya untuk menjadi orang yang percaya diri.

Ceteris paribus dengan latar belakang ekonomi yang sama. Pengalaman pribadi saya, cewe yang unik alias jelek, kepribadiannya lebih jelek dari cewe yang berparas rupawan.

Ilustrasi : Pria Bertanggung Jawab - Humor A to Z
Nah tidak berpanjang-panjang, sebagai pria bertanggung jawab, carilah wanita yang berparas rupawan (Cantik / Manis / Ayu / Cakep), agar keturunan Anda pun rupawan, hingga Anda pun tidak terlalu sulit untuk mendidik Anak Anda, menjadi Anak yang Percaya Diri, dan berprilaku baik.

Yang penting juga, Anda dan pasangan Anda harus saling menyintai, hingga Anda bisa membangun Keluarga Bahagia dengan lebih mudah.

Dalam keluarga harmonis / bahagia, anak² lebih mudah untuk mengikuti nasehat orang tuanya. (EW)

Seri : Humor Logis yang Ringan :)

Foto : Istimewa


Susu Kaleng 4.2 : Kesetaraan Jasmani

Juni 02, 2022

Jakarta (Pasutri) - Power tends to corrupt merupakan rumusan atau teori yang dapat dimengerti oleh semua pihak. Pemikiran ini, pertama-tama dilihat dari kekuatan jasmani. Dimana dengan konteks pembagian peran pada zaman dahulu kala, dimana pria berburu untuk "Mencari Makan".

Seiring dengan waktu, pria-pria tersebut menjadi lebih kuat secara jasmani, dibanding wanita pada masa itu. 

Tetapi pada saat ini, dengan adanya kesetaraan peran atau posisi, dimana wanita dapat mengubah pola hidup dengan kebiasaan olah raga, juga akan mempunyai jasmani yang cukup prima, yang bahkan tidak jarang dapat mengalahkan kondisi fisik pria.

Dengan demikian, dan memakai teori diatas, tentunya tidak berpihak kepada salah satu gender, tetap dapat dipakai sebagai bahan bincangan pada judul ini. Demi kesetaraan gender, maka kita dapat memposisikan peran wanita atau pria pada kekuatan fisik terlebih dahulu.

Dalam konteks kesamaan peran, dimana yang satu dan lainnya harus mengambil peran yang seimbang. Dengan prinsip keseimbangan, untuk dapat menghitungnya secara matematis, maka energi yang dikeluarkan oleh setiap insan dalam melaksanakan pekerjaan, tentunya harus menjadi dasar perhitungannya pula.

Dengan kesetaraan jasmani, maka tidak harus ada lagi kewajiban dari pria untuk mengerjakan hal-hal yang lebih berat dari wanita. Hal ini tentunya dapat dibicarakan, jika mereka merupakan pasangan yang demokratis.

Di lain pihak, sebaiknya masyarakat pun mulai mengerti kesetaraan tersebut secara umum, sehingga masyarakat tidak boleh menghakimi, pria yang tidak mau menolong wanita yang sedang kesulitan membawa barang yang berat, dalam konteks kesetaraan gender.

Seyogyanya kita sebagai insan manusia, apakah itu wanita atau pria, apakah tidak sebaiknya saling tolong-menolong. Tetapi bukan karena adanya dispensasi sosial yang berlaku selama ini.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id


6/01/2022

Susu Kaleng 4.3 : Perbandingan Umur Mesin

Juni 01, 2022

Jakarta (Pasutri) - Kita semua tahu, secara ceteris paribus, bahwa mesin yang lebih sering dipakai, akan lebih cepat rusak dibanding mesin yang lebih sering nganggur.

Dalam hal ini, mungkin kita akan coba cari tahu, siapa diantara pria dan wanita yang tenaga dan pikirannya lebih banyak dipakai.

Walaupun mungkin data untuk itu, tidak bisa didapat secara akurat. Tetapi paling tidak, kita bisa mendapat gambarannya dari kondisi umum yang ada di masyarakat.

Coba saja kalau kita perhatikan setiap bulan, di hampir setiap kantor pos besar, mayoritas pengambil pensiun adalah para janda.

Kita pun bertanya, dimana suaminya atau pria-pria tersebut?
Secara kelakar dapat dijawab sang suami sudah lebih cepat aus alias meninggal, karena masa hidupnya lebih banyak bekerja dari sang istri.

Kalau demikian halnya, maka sudah selayaknya perlu tinjauan pembagian peran yang lebih seimbang. Sehingga perbandingannya tidak terlalu mencolok.

Belum lagi kalau dilihat dari segi untung rugi. Sang suami pada masa hidupnya mati-matian kerja, ketika mati justru istrinya yang menikmati pensiunnya.

Tapi bagaimana jika, istrinya yang pegawai negeri. Apakah ketika istrinya meninggal, sang suami mendapatkan pensiun istrinya sesuai perhitungan janda yang suaminya meninggal?

Lagi-lagi ketidakadilan yang sangat esensial terjadi di peraturan Pemerintah yang paling mendasar sekalipun.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id


About Us

Recent

Copyright 2021 © Pasutri - Couple All Right Reserved