Susu Kaleng 14.1 : Dispensasi Sosial


Jakarta (Pasutri) - Pendekatan yang perlu menjadikan dasar dalam menemukan prinsip-prinsip normatif demi mendukung adanya kesetaraan dan keadilan gender, jika kewajiban dan peran setiap insan manusia sudah dapat didistribusikan dan diterapkan secara merata dan adil, baik dalam pola gerak maupun dalam pola pikirnya, tanpa sedikitpun melihat dari sisi kekuatan pikiran maupun fisiknya.

Dengan kemajuan teknologi, secara ceteris paribus dalam sebuah keluarga, kecerdasan maupun kekuatan fisik antara wanita dan pria tidak ada lagi bedanya.

Meskipun kelemahan fisik wanita, lebih disebabkan oleh faktor, bahwa ia tidak ingin kehilangan predikat feminim-nya. Sementara kekuatan fisik, lebih tergantung pada kebiasaan dan latihan.

Dalam nilai sosial yang masih berlaku sampai saat ini, jika ada pria yang berkelahi dengan wanita. Meskipun pria tersebut babak belur karena tidak berimbang kekuatannya, tetapi tetap saja si pria yang dipersalahkan.

Dispensasi sosial semacam inilah, yang sebenarnya merupakan nilai-nilai penjajahan psikologis.

Kita pun sering membicarakan mengenai pelecehan pria terhadap wanita di dalam rumah tangga.

Jika seorang istri (yang suaminya sebagai Kepala Rumah Tangga) membandingkan gaji suaminya yang kecil dengan orang lain, apakah ini bukan pelecehan dalam rumah tangga pula?

Dalam tayangan acara TV fear factor misalnya: terlihat pria tidak lagi menjadi superior, dimana lomba yang disuguhkan tidak dibeda-bedakan. Padahal wanita yang menjadi peserta, juga bukan dari kelompok sosial tertentu, artinya bukan dari kalangan olahragawan/ti.

Kalau kesetaraan gender di Indonesia sudah merujuk pada kesamaan segala-galanya seperti yang digambarkan pada acara TV di atas, saya sangat mendukung agar secepatnya dilaksanakan kesetaraan tersebut.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Susu Kaleng 14.1 : Dispensasi Sosial"

Posting Komentar