About

slider

Recent

?max-results=10">
'); document.write(" ?orderby=updated&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Tips : Perkasa tanpa Obat Apapun

Rahasia Perkasa tanpa Pikiran Kotor, tapi Tahan Lama Jakarta ( Pasutri ) - Ini pengalaman teman gw, sebut saja Santo, yang awalnya ia orang ...

Accordition

Arsip

Comments

Slide Show

Featured Posts

"Pasutri" dari Pandangan Pria

Populer

Navigation

Susu Kaleng 4.4 : Cinta atau Bisnis

Jakarta (Pasutri) - Sudah menjadi pandangan yang "wajar", jika seorang wanita mencari calon suami yang sudah mapan. Alasannya cukup sederhana, "cinta tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupya" Wanita tipe ini, biasa disebut sebagai wanita matre. Tetapi pada kenyataannya, masyarakat masih dapat menerima keberadaan prinsip tersebut.

Dalam konteks hak pribadi, hal ini syah-syah saja. Karena secara teoritis, pasarnya jelas, dimana ada permintaan di situ ada penawaran.

Penawaran seorang wanita yang relatif cantik, seperti yang dikatakan di atas, bagi pria karir dan kurang gaul, hal itu wajar-wajar saja. Istilah kelasiknya adalah simbiose mutualistis, si wanita dapat menikmati hidup enak, si pria dapat menikmati kecantikannya.


Mengingat tidak setiap orang yang memiliki nasib yang baik, maka pada era sekarang, dimana wanita dan pria memiliki kesempatan yang sama dalam meraih sukses.

Kini saatnya pria-pria dapat pula memilih peran dalam rumah tangga, apakah ia ingin menempatkan diri sebagai Kepala Rumah Tangga, atau Wakil Kepala Rumah Tangga.

Dalam kedudukan yang setara dalam memilih peran dalam rumah tangga, dan atas nama kesetaraan gender. Pertama yang perlu diingat, jika ada wanita matre, dimana secara permisif keberadaannya dapat diterima oleh masyarakat. Kini gilirannya, kita untuk tidak melecehkan pria ganteng yang matre, untuk mencari calon istri yang mapan.

Kalau tadi penawaran dari wanita, kini gilirannya, penawaran dari seorang pria yang relatif ganteng, seperti yang dikatakan di atas, begitu juga bagi wanita karir yang kurang gaul, hal tersebut wajar adanya.

Paradigma baru untuk memulai pernikahan, adalah pertama-tama kita (wanita atau pria) harus menentukan peran terlebih dahulu. Apakah kita ingin menjadi "Kepala Rumah Tangga" dengan segala konsekwensinya, atau ingin menjadi "Wakil Kepala Rumah Tangga" dengan segala konsekwensinya pula.

Sebenarnya peran pria yang menjadi Wakil Kepala Rumah Tangga, bukanlah hal yang baru pada kehidupan nyata. Cuma saja memang sebelumnya, definisi ini belum ada. Sehingga orang tetap menyebut seorang suami adalah Kepala Rumah Tangga.

Sehingga nantinya, dapat diharapkan, dalam perjalanan pernikahan tersebut, tidak ada lagi pemanfaatan peran ganda pada pria atau wanita, dalam sebuah rumah tangga.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id


Share
Banner

matahatinews

Post A Comment:

0 comments: