Susu Kaleng 9.1 : Perselingkuhan

Pria selalu disalahkan
Jakarta (Pasutri) - Pada dasarnya penghianatan cinta merupakan tindakan tidak terpuji. Tetapi dalam sebuah rumah tangga, manajemen komunikasi yang setara merupakan hal yang terpenting, bagi pembinaan sebuah rumah tangga yang sehat.

Ketimpangan komunikasi atau kekuasaan salah satu pihak, akan membuahkan ketidak nyamanan pasangannya.


Selama ini, jika kita melihat seorang suami meninggalkan istrinya dan menikah lagi dengan wanita lain, atau seorang wanita yang meninggalkan suaminya, dan menikah lagi dengan orang lain. Sudah menjadi pemandangan umum, tetap saja pihak yang disalahkan biasanya adalah pria (sang Suami).

Seorang pria sukses misalnya, tidak jarang yang menjadi incaran wanita, bahkan yang sudah beristri sekalipun. Dengan contoh ini, yang salah ya kedua belah pihak si pria (suami) dan wanita yang menggoda (Padahal masih punya Suami).

Dalam hal ini, wanita mungkin selalu dapat menyalahkan pria (suami), jika dirinya selingkuh dengan pria lain. Tetapi dalam konteks, si pria (suami) digoda oleh wanita lain, maka si wanita (istri) tetap saja menyalahkan suaminya.

Melihat logika di atas, mungkin para wanita perlu membuat semboyan "'sesama wanita dilarang merebut milik wanita lain" Dengan demikian diharapkan, para wanita tidak saling merebut yang sudah menjadi milik wanita juga.

Jadi kalau semboyan tersebut sudah dilaksanakan dengan baik, niscaya tidak akan ada lagi suami yang dapat berselingkuh dengan wanita lain.

Dalam manajemen konflik kita mengenal adanya langkah yang harus diambil dalam sebuah konflik yang ada dalam masyarakat, yakni konflik Internal-nya terlebih dahulu yang harus dibenahi.

Foto : Istimewa
Terus Membaca
Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Susu Kaleng 9.1 : Perselingkuhan"

Posting Komentar