About

slider

Recent

?max-results=10">
'); document.write(" ?orderby=updated&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Tips : Perkasa tanpa Obat Apapun

Rahasia Perkasa tanpa Pikiran Kotor, tapi Tahan Lama Jakarta ( Pasutri ) - Ini pengalaman teman gw, sebut saja Santo, yang awalnya ia orang ...

Accordition

Comments

Slide Show

Featured Posts

"Pasutri" dari Pandangan Pria

Populer

Navigation

Susu Kaleng 3.7 : Tidak Boleh Ada Penjajahan

Paradigma hingga pertengahan abad 19, kekuatan politik adalah kekuatan fisik, dimana siapa yang kuat secara fisik, dialah yang memimpin dunia. Dengan

Jakarta (Pasutri) - Paradigma hingga pertengahan abad 19, kekuatan politik adalah kekuatan fisik, dimana siapa yang kuat secara fisik, dialah yang memimpin dunia. 

Dengan adanya perubahan perang politik kepada perang ekonomi, maka kekuatan fisik tidak lagi menjadi hal yang nomor satu.

Kalau dulu Belanda menjajah kita 350 tahun dengan konsep penjajahan fisik, maka saat ini penjajahan negara-negara maju kepada kita lebih pada penjajahan ekonomi.

Penjajahan ekonomi tidaklah menggunakan kekuatan fisik semata, melainkan lebih pada kekuatan pemikiran atau kemajuan teknologi. Tetapi namanya penjajahan, tetap saja penjajahan, yakni, yang lemah selalu dirugikan.

Dari perubahan paradigma di atas, jelas bahwa penjajahan harus diartikan sebagai pemanfaatan yang kuat terhadap yang lemah, dalam bentuk apapun.

Konstruksi sosial mengenai ketidak setaraan antara wanita dan pria tidak saja memenjarakan wanita pada peran-peran stereotip-nya, di lain pihak justru menjajah pria secara opini.

Misalnya, umum kita dengar, jika orang tua yang sedang menasehati anak laki-lakinya yang ketahuan berbohong, dengan ucapan "Anak laki harus pegang janji". Kata-kata tersebut tidak diperlakukan atau tidak dibebankan kepada wanita.

Sering pula kita dengar, jika ada anak wanita dan pria yang sedang bertengkar, si pria diharuskan untuk mengalah, meskipun yang salah adalah si wanita.

Hal ini jelas adanya pembebanan tanggung jawab yang tidak setara antara wanita dan pria, mulai dari tataran pemikiran, hingga tataran perlakuan. Yang dapat dilihat pada banyak acara reality show.

Yang tentunya menggambarkan kehidupan sebenarnya. Tetapi banyak pria yang malu dibilang banci, karena melawan stigma itu, karena ketidak pahamannya, mengenai apa itu standar ganda, dan apa itu standar tunggal.


Share
Banner

matahatinews

Post A Comment:

0 comments: