About

slider

Recent

?max-results=10">
'); document.write(" ?orderby=updated&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Tips : Perkasa tanpa Obat Apapun

Rahasia Perkasa tanpa Pikiran Kotor, tapi Tahan Lama Jakarta ( Pasutri ) - Ini pengalaman teman gw, sebut saja Santo, yang awalnya ia orang ...

Accordition

Comments

Slide Show

Featured Posts

"Pasutri" dari Pandangan Pria

Populer

Navigation

Susu Kaleng 3.3 : Peran Pencari Nafkah

Dahulu manusia hidup cukup dengan Makan Minum, dengan peralatan dan kelengkapan yang sederhana. Kini, kita hidup dengan kebutuhan yang lebih komplek

Jakarta (Pasutri) - Dahulu manusia hidup cukup dengan Makan Minum, dengan peralatan dan kelengkapan yang sederhana. 

Kini, kita hidup dengan kebutuhan yang lebih kompleks. Dimana selain Makan Minum, kita juga butuh sandang pangan yang trendy. Sehingga judulnya tidak lagi "Mencari Makan', tetapi "Mencari Nafkah".

"Mencari Nafkah" di perkotaan pada saat ini, tidak lagi seberat (dalam tinjauan fisik) seperti "Mencari Makan" pada saat yang lalu. Sehingga tidak mengherankan jika peran tersebut, kini sudah dapat dilakukan oleh wanita.

Hal ini bukan berarti menolak pemikiran, bahwa pada zaman dahulu wanita tidak memiliki kekuatan. Tetapi memang keterbatasan sarana dan prasarana yang ada pada saat membagi peran pria dan wanita menjadi dua hal yang dikotomis.

Singkat kata, Anda dapat membaca dalam "Proses Menjadi Kaum Lemah", karena dahulu belum ada "Susu Kaleng".

Peran "Pencari Nafkah" adalah paralel dengan predikat "Kepala Rumah Tangga", karena sejarahnya yang "Mencari Makan" adalah "Kepala Rumah Tangga", sudah selayaknya pula "Pencari Nafkah" adalah juga disebut "Kepala Rumah Tangga". 

Dengan demikian juga, sudah selayaknya kita harus menyamakan  dahulu dalam menempatkan persepsi pemikiran kita (wanita dan pria), untuk dapat menerima kesetaraan predikat tersebut.

Kalau predikat Kepala Rumah Tangga bukan lagi monopoli kaum pria, kini saatnya kita melepas predikat Ibu Rumah Tangga yang dahulu monopoli kaum wanita.

Jika secara mental kita siap untuk menerima konsep tersebut, tinggal kita mencarikan sebutan yang netral, untuk predikat masing-masing peran.

Mungkin bagi orang yang dominan mencari nafkah, tetap kita sebut sebagai "Kepala Rumah Tangga", karena predikat tersebut tidak ada unsur gender-nya.

Sedangkan predikat untuk "Ibu Rumah Tangga" dapat kita ganti sebagai "Wakil Kepala Rumah Tangga". Karena Ibu menunjukan gender.

Dengan predikat tersebut jelas, bahwa kita justru tidak membedakan gender, yang kita bedakan adalah siapa yang lebih berperan atau lebih dominan dalam mencari nafkah itu sendiri.

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id
Share
Banner

matahatinews

Post A Comment:

0 comments: