About

slider

Recent

?max-results=10">
'); document.write(" ?orderby=updated&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Tips : Perkasa tanpa Obat Apapun

Rahasia Perkasa tanpa Pikiran Kotor, tapi Tahan Lama Jakarta ( Pasutri ) - Ini pengalaman teman gw, sebut saja Santo, yang awalnya ia orang ...

Accordition

Arsip

Comments

Slide Show

Featured Posts

"Pasutri" dari Pandangan Pria

Populer

Navigation

Susu Kaleng 10.1 : Menyerang dan Diserang

Jakarta (Pasutri) - Bicara kodrat, mungkin perlu dibuktikannya secara teknis. Mengapa demikian? 

Karena wanita begitu gampang mengatakan, bahwa wanita adalah memiliki kodrat sebagai kaum lemah. Sementara pada kenyataannya, tidak sepenuhnya benar.

Dalam konteks hubungan intim, kita dapat melihat, mengapa pria harus memiliki agresifitas terhadap wanita. 
Hal ini secara gamblang dapat dilihat secara biologis dari sisi pria maupun wanita, dalam berhubungan suami istri. 

Dimana pria harus tegang terlebih dahulu, dan tanpa tegang dapat dikatakan, tidak akan pernah terjadi hubungan tersebut.

Untuk dapat menyerang, pria harus tegang, inilah yang disebut kodrat, karena hal ini tidak dapat digantikan dengan apapun, dalam kaitannya hubungan suami istri yang normal.

Sementara wanita, dapat dengan pasif melakukan hubungan tersebut. Dari sisi inilah, dapat dilihat, bahwa pria dalam konteks hubungan suami istri, harus memiliki keperkasaan terlebih dahulu, dan barulah sang pria dapat melakukannya.

Perlu adanya keperkasaan pria terhadap wanita, dalam melakukan hubungan tersebut merupakan kodrat. 

Karena hal itu tidak dapat ditawar lagi, atau tidak dapat dilakukan dengan tanpa adanya keperkasaan itu sendiri. Situasi ini adalah mutlak adanya.

Seperti halnya melahirkan, ini mutlak dimiliki oleh wanita, sehingga inilah yang disebut kodrat.

Dalam konteks "Psikoanalisa" Sigmun Freud, dikatakan "Suatu tendensi naluriah dapat dipuaskan, misalnya karena tendensi itu disalurkan keluar melalui perbuatan-perbuatan". 

Berangkat dari pernyataan Sigmun Freud tersebut, maka sekilas dapat disimpulkan, bahwa naluri seseorang dapat dipuaskan, ketika ada tanggapan positif dari lawannya.

Sebaliknya, jika naluri tersebut mendapat reaksi negatif dari lawannya, meskipun tidak mutlak, dapat menimbulkan kemungkinan Neurosa.

Foto : Istimewa
Terus Membaca
Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id
Share
Banner

matahatinews

Post A Comment:

0 comments: