About

slider

Recent

?max-results=10">
'); document.write(" ?orderby=updated&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Tips : Perkasa tanpa Obat Apapun

Rahasia Perkasa tanpa Pikiran Kotor, tapi Tahan Lama Jakarta ( Pasutri ) - Ini pengalaman teman gw, sebut saja Santo, yang awalnya ia orang ...

Accordition

Arsip

Comments

Slide Show

Featured Posts

"Pasutri" dari Pandangan Pria

Populer

Navigation

Susu Kaleng 5.3 : Cengeng dan Klemar Klemer


Jakarta (Pasutri) - Sebuah monopoli, biasanya orang mengartikan pada keuntungan sendiri ketimbang membaginya dengan orang lain. Sehingga jika ada pihak yang melakukan monopoli, biasanya pihak lain akan menuntut agar monopoli tersebut dihentikan, dan dapat diberikan secara seimbang kepada pihak yang tidak mendapatkan hak tersebut.

Monopoli yang satu ini, tidak pernah diributkan oleh wanita. Secara singkat, orang bilang, kalau yang nggak enak mengenai kita, kita harus menuntut hak kita, tetapi kalau kita diuntungkan, walau pihak lain dirugikan, apalagi jika, kita sebagai penganut standar ganda, maka kita akan diam saja.

Konsep cengeng yang sering menjadi bulan-bulanan bagi seorang pria, yang untuk anak kecil - cepat sekali menangis, jika mengalami sesuatu yang buruk terhadap dirinya. Sedang untuk orang dewasa, adalah pria yang kurang berusaha dalam mencapai sesuatu. Hal ini sudah dimonopoli oleh seorang pria, dari sejak kecil.

Monopoli ini, bukan saja merugikan pria itu sendiri, tetapi bahkan dengan kata cengeng, seorang wanita dengan mudah melecehkan pasangannya yang secara subyektif dianggap kurang berusaha dalam segala bidang. Hal tersebut, lebih menyakitkan lagi, jika ukurannya adalah penghasilan seorang pria dalam pekerjaannya.

Mungkin para wanita yang sudah paham benar dengan emansipasi, akan merasa adanya sebuah pelecehan, jika ada sebutan bagi pria yang klemar-klemer dengan predikat "kaya wanita aja". Bagi wanita yang sadar dengan emansipasi, hal itu jelas merupakan pelecehan, karena seolah-olah menggambarkan betapa jeleknya sifat gender wanita, atau seolah meposisikan wanita itu sendiri sebagai warga kelas dua.

Dengan kesadaran dan penerapan emansipasi bagi wanita, ada baiknya penerapan kesetaraan gender tesebut dapat lebih terukur secara matematis. Sehingga semua hal dapat dihitung dengan dasar yang pasti, bukan berdasarkan subyektifitas, atau bahkan kepintaran orang berkelit semata.

Dengan kemajuan pengertian emansipasi ini, semoga tidak ada lagi kata-kata yang hanya dapat dimonopoli oleh pria saja atau wanita saja. Seperti; kata cengeng yang sejak dahulu hanya dimonopoli oleh pria yang kurang berusaha, mudah putus asa, dlsb.

Foto : Istimewa
Terus Membaca
Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
www.pasutri.web.id



Share
Banner

matahatinews

Post A Comment:

0 comments: