About

slider

Recent

?max-results=10">
'); document.write(" ?orderby=updated&alt=json-in-script&callback=labelthumbs\"><\/script>");

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Tips : Perkasa tanpa Obat Apapun

Rahasia Perkasa tanpa Pikiran Kotor, tapi Tahan Lama Jakarta ( Pasutri ) - Ini pengalaman teman gw, sebut saja Santo, yang awalnya ia orang ...

Accordition

Comments

Slide Show

Featured Posts

"Pasutri" dari Pandangan Pria

Populer

Navigation

Nasehat Perkawinan : Cerai atau Tetap di Neraka

Saya punya dua kali pengalaman gagal dalam perjalanan pernikahan saya. Saya setuju hal ini pengaruh besar dari Kesetaraan Gender yang mulai merangsek
Jakarta (Pasutri) - Saya punya dua kali pengalaman gagal dalam perjalanan pernikahan saya.

Saya setuju hal ini pengaruh besar dari Kesetaraan Gender yang mulai merangsek masuk ke pemikiran hegemoni kaum wanita Indonesia.


Dalam menjalani pacaran, saya selalu mengarahkan pada komitmen yang simbiose mutualisme, apa saja interaksi, dan komunikasi yang kita harus sepakati bersama, untuk membuat keluarga kita yang bahagia, dimana hingga masalah hubungan pasutri pun, kita bicarakan secara terbuka.

Saat pacaran semua okok saja, dari kedua mantan istri saya, terlihat komitmen itu sudah diterapkan, dan ingin mereka pertahankan, hingga akhirnya membuat saya begitu yakin.

Tapi dalam kenyataannya, pa!ing lama komitmen tersebut mereka taati, hanya dalam waktu satu tahun perkawinan. Sementara kedua mantan istri saya, mengakui kepada anak² saya dari kedua mantan saya tersebut, bahwa saya orang yang selalu berpegang pada komitmen.

Dalam jalannya waktu, untuk mempertahankan perkawinan, saya pun menawarkan perubahan komitmen - jika diperlukan, dengan tetap berpatokan pada simbiose mutualisme, atau standar tunggal - "Elo boleh Gue boleh, Gue tidak boleh Elo tidak boleh"... fair Khan... Tapi mereka selalu menolak...

Memang yang namanya penyesalan selalu datang belakangan, kalau duluan namanya pendaftaran.... hehehe


Penyesalan saya bukan karena kedua perceraian tersebut, tapi pada kenapa hanya saya yang mencoba mempertahankannya, hingga berlama-lama.

Dari kedua pengalaman saya, sebaiknya saat pacaran, sudah dipastikan dan disepakati terlebih dahulu. Ketika komitmen dilanggar dengan sengaja, maka pintu perceraian terbuka lebar bagi kedua belah pihak. Justru ini akan tidak membuat berlarut-larutnya anak² dalam kondisi Kebahagiaan Semu.


Intermezo
Saya punya tetangga, yang orang tuanya CekCok setiap harinya.

Anak perempuan mereka, dari masih dibedong, hingga umur 5 tahunan, mayoritas tinggal sama saya, hingga dia merasa sayalah orang tuanya.

Umur 6 tahunan prahara rumah tangga terjadi, ibunya konon selingkuh dengan teman kerjanya.

Anak umur 6 tahun itu, setiap hari berkeluh kesah kepada saya. Apa ini bukan anak yang Broken Home, bahkan kalau berkepanjangan, karena tidak bisa rujuk... Ini justru membuat anak akan trauma yang berkepanjangan... Ingat trauma broken home yang berkepanjangan akan sangat sulit memperbaikinya...


Jangan tabukan perceraian, karena takut melahirkan anak² yang broken home. Tapi ingat, keluarga yang tidak bahagia pun akan melahirkan anak² yang broken home.

Mendingan segera cerai, jika salah satu ada yang tidak berkomitmen, dan anak² segera diberikan terapi kebahagiaan.

Oh iya saya lupa, saya pacaran sama mantan² istri itu tahunan sebelum ke jenjang perkawinan, bahkan ada yang lebih dari 5 tahun. Jadi jelas ya, seperti anak kecil yang dijanjikan untuk mendapatkan mainan yang ia inginkan. Dia rela berkelakuan baik kepada orang tuanya. Tapi setelah dapat (asumsinya menikah), jangan khan nurut kepada orang tuanya, mainannya pun dibanting-banting.


Apalagi dia pikir, dalam surat nikah, kaum wanita lebih dimenangkan, atau mereka lebih dipermudah untuk pengurusan perceraiannya, ketimbang kaum pria yang mengajukan perceraian.

Jangan buang² waktu untuk hidup di neraka, bersama istri yang tidak berkomitmen... Pria juga butuh bahagia...

Jadi inget kata² di Twitter @Pasutri:

"Dibalik Suami yang Berhasil, ada Peran Istri yang Baik dan Mendukung. Dibalik Suami yang Gagal, ada peran Istri yang Buruk dan Merongrong."

Pengalaman saya dengan mantan² istri, dari pacaran, perkawinan, hingga cerai adalah 17 tahun, dan 18 tahun, berarti saya buang-buang waktu kebahagian saya secara matematis adalah 23 tahun.


Kalau saya nikah umur 25 tahun, berarti sekarang saya berumur 50 tahun, yang sebentar lagi pensiun.

Janganlah seperti saya

Jangan biarkan anak² trauma berkepanjangan, hingga mereka susah membedakan mana Kebahagiaan yang hakiki dan mana yang cuma Kesenangan belaka.

Semoga bermanfaat (Taufik)

Foto : Istimewa

Twitter : @Pasutri
Instagram : @igpasutri
Tik Tokn: @tiktokpasutri
www.pasutri.web.id



Share
Banner

matahatinews

Post A Comment:

0 comments: