Cinta Kita Ditukar Gerombolan

Lia dan Boy
Jakarta (Pasutri) - Tanggal 6 jam 14.41 ada wa masuk di hapeku. Nomer baru dengan wajah tertutup masker covid, tapi aku tahu itu wanita....

Nah wanita yang ku kenal ada andeng-andeng di atas pipi kanan, ada dua, satu mantan staff ku di kantorku dulu, dan satu lagi Mantan Cintaku (belum sempat pacaran).

Kalau Mantan Cintaku tidak mungkinlah, ada urusan apa, dia khan sudah punya suami, ya aku diemin aja, soalnya tidak kasih tahu nama cuma "Assalamualaikum" saja.

Keesokan harinya aku merasa perlu menyapa, takutnya ada butuh bantuan, dan pada jam 08.27 aku jawab "Salam"

Jam 14.17 dijawab untuk pertama kalinya...

Aku Lia, "masih inget tidak, rumahku dekat kantor mu dulu"...

Senang banget dan rasa tidak enak campur aduk, senangnya ketemu lagi dengan Mantan Cintaku, tidak enaknya dan takutnya, aku keceplosan omongan, khan dia sudah punya suami.

Biasa basa basi dulu, sekarang kerja dimana dan lain-lain

Dia masih tidak yakin kalau aku ingat sama dia...

Dia kirimlah foto kekiniannya, tanpa rem aku bilang, masih cantik aja kamu. Pas sadar, aku minta maaf, karena aku bicara terlalu jujur, mungkin karena dulu pernah cinta ya... Dalam hati semoga suaminya taulah, meskipun pernah cinta, itu bukan rayuan, ya kaya kita kagum sama bintang film saja...

Setelah panjang lebar bicara, aku memberanikan diri untuk menanyakan kabar suaminya, "gimana kabar Masmu", dan dia jawab, ternyata suaminya sudah meninggal.

Sempat aku termanggu sejenak, dan langsung aku berbelasungkawa, walau ternyata sudah meninggal cukup lama.

Aku rada tidak percaya, karena suaminya pernah satu kantor sama aku, tapi koq aku tidak tahu. Suaminya orangnya baik dan ganteng, sempat dekat juga aku dengan Almarhum.

Diam-diam aku wa temanku yang masih di kantor lamaku, menanyakan apakah pak Mamik sudah meninggal, dan ternyata benar

Mundurnya aku dengan Mantan Cintaku, karena aku dikasih tau kalau Lia sudah pacaran lama sama pak Mamik.

Singkat cerita aku pindah kantor ke sebuah majalah bisnis terkemuka pada saat itu, dan sudahlah aku harus lupakan diajeng Lia. Usaha ku melupakan dia membuahkan hasil kerja keras, di majalah tersebut aku berkarir cukup baik, mulai dari wartawan junior, hingga promosi menjadi redaktur dalam waktu tidak sampai satu tahun, dan menginjak tahun ke dua aku mendapat promosi menjadi Marketing Manajer.

Saat itu anak muda yang pegang kartu kredit menjadi trend, sebagai eksekutif muda, nah karena fasilitas kantor, aku dibuatkan kartu kredit dan atm.

Aku kebetulan sering lewat Tebet Raya, satu saat lagi mau urus atm dan kartu kredit, berhentilah aku di sebuah bank ternama. Betapa kagetnya aku, ternyata Lia ada bekerja sebagai Teller di bank tersebut, sebelum Lia lihat aku, aku langsung balik kanan.

Tapi mulai saat itu, aku kembali jatuh cinta lagi sama Lia, jadi rajinlah aku ke bank tersebut, bukan untuk setor, hanya untuk pura-pura ke ATM saja, sambil curi-curi pandang. 

Sampai aku sadar, itu juga sebenarnya tidak boleh, khan dia sudah ada yang punya.

Sejak saat itu aku coba melupakan lagi, sampai akhirnya aku dengar dia menikah dengan pak Mamik yang ganteng.

Setahun setelah itu aku pun menikah, dan setelah menikah 4 bulan, istriku hamil, tahun berikutnya anak pertamaku lahir. 

Saat lahiran, aku lupa kita ambil kamar klas berapa, yang jelas sekamar dua pasien, Saat lagi sibuk-sibuknya aku urus segala keperluan istriku, terdengar dari balik tirai memanggil nama kecilku 'boy"

Termyata Lia yang memanggilku, karena pasien di sebelah istriku adalah teman kantornya Lia.

Tetap saja perasaanku amburadul, tapi dalam hati aku mengatakan, "jangan kamu sakiti istrimu yang baru saja melahirkan anakmu". Terpaksalah aku tidak mendatangi Lia, walau cuma sekedar "say halo"

Pertemuan itu adalah terakhir kali aku bertemu dengan Lia, belasan tahun lalu.

Waktu berlalu begitu cepat, karirku cukup lumayan, hingga akupun sempat membuat beberapa perusahaan, dari mulai pengadaan barang, kontraktor kecil-kecilan, hingga lembaga pendidikan.

Ternyata kemarin waktu pertama kali Lia wa, adalah tanggal pertama kali kita ketemuan.

Saat itu aku sedang mau main tenis di kantor, tapi karena aku masih keroco saat itu, aku dapat giliran sore hari. Daripada nunggu di pinggir lapangan, aku berinisiatif untuk jalan-jalan dulu.

Saat aku melintasi rumahnya yang persis terletak di samping gedung kantorku, Lia baru saja keluar halaman yang diantar hingga teras oleh Ibunya,

Lihat wanita cantik, dan aku tau persis itu rumah orang kantorku juga, langsung aku berhenti, dan turun untuk menawarkan mengantarnya ke depan yang cukup jauh untuk mencapai jalan besar.

Untung Ibunya pun mengizinkan, karena insting Ibu kali ya. Hingga hampir sampai ke jalan besar, aku tanya ke Lia sambil berharap-harap, memang mau kemana...

Ternyata mau ke Pancoran untuk membeli keperluan membuat kue. Aku menawarkan kalau boleh aku antar, kebetulan aku sejalan. Dengan menolak halus, ia bilang, 'khan tadi menawarkannya cuma sampai jalan besar" 

Tapi aku tidak kalah usaha hahaha, iya, tapi khan kita sejalan apa salahnya. Akhirnya Lia pun menyetujuinya.

Sampai di supermarket besar saat itu, di pojok Pancoran Lia minta aku menepi, agar dia bisa turun, tapi aku memaksa untuk masuk ke halaman parkir.

Dan, aku langsung parkir, aku bilang aku juga ada keperluan. 

Akhirnya aku antar dia untuk cari kebutuhannya, setelah itu, aku bilang kalau mau duluan silahkan. Tapi Lia orang baik, dia bilang "aku sekarang antar kamu untuk cari keperluan kamu, tadi khan kamu sudah antar aku mutar-mutar supermarket."

Tadinya aku memang mau langsung pulang ke rumah, karena sudah malas main tenis yang harus nunggu para bos main dulu.

Tetapi karena Lia orangnya baik, dalam hati aku memutuskan untuk mengantar dia kembali sampai di rumah.

Saat keluar pintu supermarket, Lia sudah mengucapkan terimakasih, nampak ia seorang yang mandiri, ingin pulang sendiri.

Seketika itulah aku jatuh cinta pada Lia

Aku bilang tidak, kamu harus kembali lagi sama aku hingga kerumah. Lia pun menolak karena takut merepotkan.

Untuk pertama kalinya aku memegang tangannya, untuk meyakinkan bahwa aku ingin mengantar dia kembali ke rumah.

Dia pun kaget, tapi aku keburu melepas dan meminta maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar, aku cuma takut kamu lari nyebrang jalan.

Akhirnya aku bilang kalau aku sebenarnya mau main tenis, tapi karena harus menunggu lama, aku jalan-jalan dulu.

Lia dengan setengah tidak percaya, aku giring dia ke mobil ku, sampai di mobil, terpaksa aku mengambil raket tenis ku, untuk meyakinkannya.

Akhirnya dia naik ke mobil, dan ku antar dia sampai ke rumahnya, dan pamitan sama Ibunya, sambil menyapa "koq jadi ngerepoti sih". Aku jawab, "saya sekalian mau main tenis di belakang koq Bu"

Hari berlalu, dan aku tidak punya alasan untuk datang ke rumahnya, karena ternyata Ayahnya  salah satu pejabat di kantor ku.

Dewi fortuna ternyata memihak pada ku, sampai satu siang ada telpon di ruangan aku, ternyata Lia yang telpon... Gugup pastinya, begitu temanku menyampaikan ada telpon dari Lia untukku. Ternyata ia mengundangku untuk ke rumahnya, ada acara keluarganya, nanti malam.

Saat aku datang, seingatku orang kantorku hanya segelintir, itupun bukan keroco seperti aku. Hatiku berbunga-bunga ketika diajak ngobrol sama Ayahnya mengenai persoalan kantor, karena menurut aku, aku bisa menjawab semua pertanyaannya.

Disinilah babak cerita ini dimulai

Keesokan harinya, semua orang menanyakan pengalamanku tadi malam. Ada yang memuji, karena seorang Lia mengundang diriku, sementara yang menyukai dia seabrek-abrek dan semuanya secara pendidikan dan jabatan di atas aku, saat itu aku masih persiapan skripsi.

Dari yang memuji, hingga yang nyinyir, karena Lia anak pejabat, sementara aku keroco, dan mulai saat itu, banyak senior yang melarang secara halus untuk aku tidak mencoba mendekati Lia.

Semua gerak ku pun selalu dipantau, sampai-sampai aku bicara sama adiknya saja, pada suatu kesempatan dalam persiapan Tujuhbelasan, esok harinya sudah digosipkan macam-macam.

Padahal aku cuma tanya kepada adiknya, "gimana kabarnya mba Lia", dan adiknya yang masih polos pun bilang, "kenapa tidak ke rumah saja mas".. saat itu aku hanya bisa menelan ludah saja, sedih ya sedih, tapi ya sudah.

Singkat cerita aku dipaksa untuk berhenti mendekati Lia, yang kini menjadi Mantan Cintaku, karena aku belum sempat pacaran.

Hingga kemarin dulu, aku tidak tau bagaimana perasaan Lia kepadaku.

Hari ini, aku baru tahu persis gimana perasaan Lia kepadaku, ingin nangis rasanya, dan terasa badanku berat sekali, saat mendengar ceritanya.

Lia memulai cerita, mengapa dia tidak menghubungi aku, karena dia dilarang untuk menghubungi aku, entah dengan fitnah apa, sampai akhir pembicaraan hari ini yang berakhir pada jam 21.42

Sampai akhir pembicaraan Lia tidak mau cerita alasannya, mengapa tidak boleh dekat dengan aku.

Hari ini tanggal 8, aku ingin coba meneruskan cerita kemarin, baru saja jam 22.04 aku menyapanya "sugeng sare Diajeng, mimpi indah ya" dan tidak dijawab, mungkin sudah tidur.

Aku hanya coba untuk menebak, karena beberapa orang yang disebutkan oleh Lia, adalah orang-orang yang berlomba mendapatkannya, itu aku tau. 

Mungkin mereka gerombolan yang ingin merampok Cinta Kita dan ditukar dengan cinta mereka

Baru saja Lia wa aku, bahwa dia belum tidur, dan aku bilang aku sedang menulis tentang cerita kita dan waktu nulis, tidak terasa aku meneteskan air mata.

Mungkin sampai sini dahulu, karena tiba-tiba aku sesenggukan, dan hilang semua kekuatan untuk menulis.

Akhir kata, semoga tidak ada yang mengalami seperti yang kami alami,

Cinta yang indah itu, Tulus

Diangkat dari kisah nyata, dengan mengubah nama, dan wilayah kantor dan rumah Lia

Penulis : Risa dan Sari

Foto : Istimewa

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cinta Kita Ditukar Gerombolan"

Posting Komentar